CARA MENGONTROL EMOSI




Kemarahan adalah bentuk emosi yang membuat seseorang tak nyaman. Orang yang sedang marah tak bisa berpikir apapun dengan jernih, selain menggerutu dan mengomel. Ketika kita marah, kita dapat melakukan tindakan bodoh, misalnya memaki-maki orang lain, merusak barang-barang, membuat tindakan berbahaya, dan masih banyak hal bodoh lainnya. Kemarahan adalah emosi yang wajib kita kontrol.
Namun, kemarahan memiliki sisi positif. Kadangkala ini menjadi motivasi dan memberikan kekuatan bagi seseorang. Sayangnya, marah lebih dominan hal negatif daripada hal positifnya. Orang yang mudah marah biasanya dihindari oleh orang lain. Mengapa? Karena marah itu menular! Orang lebih memilih menjaga jarak dan tak berbicara dengan si pemarah kecuali jika dalam keadaan terpaksa.
Beberapa orang mudah marah akibat masalah sepele, sementara ada pula orang yang terlihat tak pernah marah. Reaksi marah terhadap situasi tertentu tergantung pada gaya masing-masing orang. Beberapa orang memilih bertindak sesuai dengan ukurannya sendiri. Mereka merasa alasan mereka untuk marah adalah benar: Mereka akan menjadi bengis, dan orang lain akan takut pada orang tersebut sehingga memilih untuk menjauhi, bahkan menolak untuk dihubung-hubungkan dengan si pemarah.


Beberapa orang bahkan terlihat seperti “orang tua pemarah buruk rupa”. Mereka tak punya teman dekat. Terkadang mereka memiliki pengikut atau geng sendiri. Tapi, cara untuk mempertahankan kelompoknya, mereka biasa menggunakan cara-cara yang keras dan kasar. Ini menjadi beban bagi mereka—mereka tak boleh menunjukkan kelemahan di depan orang lain, dan mereka tak bisa merasakan hubungan yang lebih baik dan stabil dengan orang lain.
Kemarahan tak akan membawa resolusi masalah yang sejati, karena kemarahan hanya akan membawa seseorang pada dua hal: Jika tak menang, ia akan kalah. Tragedi akan terjadi bagi orang yang memilih untuk memelihara kemarahannya, dan menggunakannya untuk membuat orang lain takut—kemudian orang yang merasa terancam itu akan membangun kekuatan untuk melawan orang yang melawan mereka, walaupun yang dilawan lebih kuat. Perlawanan ini seringkali mematahkan kharisma si penyerang dan juga pengikutnya.


Menyelesaikan masalah berdasar prinsip “yang kuat yang benar” adalah buruk, karena hanya mengandalkan kekuatan semata-mata. Karena berada di bawah tekanan, pihak yang lemah akan mengalah. Padahal, sebenarnya mereka tak benar-benar menyerah, sebab mereka juga menyusun rencana. Masalah yang sama dapat muncul kembali. Si otoriter akan memerhatikan setiap kelemahannya sendiri. Apa yang dianggap bukanlah masalah dalam situasi normal, bagi orang kebanyakan, jadi sesuatu yang tak dapat diterima dan dimaafkan oleh si otoriter. Menggunakan kekuatan untuk mengatur orang, seringkali tak bertahan lama. Energi yang besar diperlukan untuk membuat seseorang tunduk.
Nah, kita harus bisa mengatur kemarahan kita. Kitalah yang dapat menentukan gaya kita dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain, dan memilih menyelesaikan  masalah dengan cara damai daripada dengan cara marah dan kekerasan. Kita dapat berkata pada diri sendiri: “Aku tak semestinya menghina orang lain, aku tak seharusnya menyakiti orang lain.” Jika kita menerapkan nilai-nilai ini pada diri sendiri, maka perasaan marah akan akan jarang menghampiri. Memang, diri kita sendirilah yang dapat menentukan untuk membuka atau menutup pintu kemarahan.

Picture from: www.zerochan.net



 

4 komentar :

About Me

Foto saya
Prodi Ilmu Hukum Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Followers