Enam Langkah untuk Menyelesaikan Masalah secara Bijaksana

  1. Kenali Dulu Masalahnya
Cobalah untuk tidak membuat segala hal terasa bahkan menjadi rumit. Masalah itu sendiri sudah rumit—kita tak perlu menambahkannya dengan emosi, kemarahan, atau sikap menyalahkan orang lain. Pikirkan dalam-dalam: Apa sebenarnya akar dari permasalahan tersebut, dan masalah apa yang kita tambahkan dengan kemarahan? Pisahkan aspek lain yang tidak termasuk dalam akar masalah kita, dan fokuskan hanya pada aspek-aspek yang penting dalam masalah kita.
       2. Jangan Membuat Keputusan yang Permanen dan Jangan Melindungi Posisi Kita
Menjadi hal yang sangat penting untuk belajar membedakan antara posisi pihak yang bermasalah, serta mengerti kebutuhan dan ketakutan mereka. Ada banyak masalah yang muncul, yang terlihat susah untuk diselesaikna. Ini karena kedua belah pihak sama-sama keras kepala, hanya berbicara dan melihat dari sudut pandang mereka sendiri daripada membicarakan apa yang menjadi kebutuhan mereka.
Kita akan melihat orang akan menegaskan posisi mereka dengan memberikan kalimat-kalimat bernada ultimatum, bernada perintah, ancaman atau bahkan makian! Mereka ini tengah membuat “solusi” sendiri, daripada membuka pembicaraan. Pembicaraan tentang apa yang dibicarakan tidak hanya sesuatu yang dipikirkan dan diinginkan oleh satu pihak. Kita harus jujur dan terbuka serta menunjukkan apa pentingnya kita untuk menyelesaikan masalah tersebut.
           3. Pikirkan Hal Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan
Buatlah data mengenai kebutuhan kita dan perhatikan apa inti persoalan serta rasa keberatan kita. Sekarang, apa saja kebutuhan yang bersifat universal? Menurut seorang psikolog, Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia adalah:
a.       Kebutuhan untuk diakui dalam setiap hal yang dilakukan
b.      Kebutuhan pada rasa percaya diri, bahwa diri sendiri berharga dan layak dihormati
c.       Kebutuhan akan cinta, kasih sayang, persahabatan, dan hubungan sosial
d.      Kebutuhan terhadap rasa aman
e.       Kebutuhan akan air, makanan, udara, istirahat, dan tempat tinggal
           4. Memetakan Masalah
Masalah dapat menghasilkan sejumlah emosi negatif dalam diri kita. Membuat peta konflik pada selembar kertas dibutuhkan agar kita bersikap bijaksana. Letakkan masalah kita di tengah peta dan isilah diagram-diagram dengan solusi yang tepat. Minta bantuan orang yang dapat memberikan solusi terbaik pada kita, jika memungkinkan, buatlah bersama dengan “lawan” kita. Yang terpenting adalah, kita dapat mendengarkan pendapat dari pihak lain.
           5. Mulailah untuk Mencari Solusi

a.       Solusi yang memuaskan kedua belah pihak 
Solusi masalah terbaik adalah solusi yang membuat kedua belah pihak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hasil akhir solusi ini adalah pihak-pihak yang bermasalah akan lebih memahami satu sama lain.
b.      Kompromi
Kompromi adalah bentuk solusi yang baik bagi masalah, meskipun tak sebaik solusi yang memuaskan kedua belah pihak. Dan persoalan mungkin belum selesai jika salah satu atau kedua belah pihak merasa tak puas dengan kompromi itu.
c.       Solusi Untung-untungan
Jika kompromi tak berhasil dicapai dengan cepat, kita bisa saja mengandalkan solusi dengan cara melemparkan koin, atau mengambil kertas undian, lalu yang beruntung itulah yang menang. Hal yang perlu diingat adalah kita dilarang menyesal dengan hasil final keputusan dengan cara ini. Namun, cara ini hanya bagus digunakan untuk hal-hal yang tidak begitu penting.
d.      Mengalah pada Pihak Lain
Ketika masalah menyangkut pada hal yang prinsipil, mengalah pada pihak lain bukanlah hal yang baik. Ketika masalah tidak menyangkut hal yang cukup penting atau kondisinya lebih penting untuk kita dalam menjada hubungan baik, maka mengalah adalah solusi yang baik.
e.       Masalah Palsu
Kadangkala, perbincangan yang serius menunjukkan pada kedua belah pihak bahwa masalah sesungguhnya bersumber semata-mata hanya dari kesalahpahaman. Contohnya seseorang berbicara pada pihak lain mengenai kejelekan pihak ketiga, namun pembicaraan yang mereka lakukan itu tak ada penting-pentingnya. Orang akan lega sekaligus malu karena mereka tak terlanjur mengecek kebenaran berita itu dengan serius.
Jadi, mereka harus sadar bahwa mereka bukan musuh dan dapt bekerjasama untuk menyelesaikan masalah.
          6. Menerapkan Solusi
Setelah bertemu dengan sebuah solusi, hal yang terpenting adalah bersepakat. Perjanjian adalah hal yang penting. Ini adalah dasar bagi macam-macam hubungan sosial: Dalam pemerintahan, keluarga maupun antar teman. Pelanggaran terhadap kesepakatan, walaupun kita lakukan secara diam-diam, dapat mengganggu hubungan antar orang.

0 komentar :

About Me

Foto saya
Prodi Ilmu Hukum Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Followers